Motret

Saya baru saja selesai berkeliaran tamasya keliling Kota sekitar Glodok, ceritanya mau foto-foto, tapi nggak banyak hasil karena sangat ramai dan masih belum terbiasa dengan tempatnya. Akhir-akhir ini kegiatan waktu luang saya yang pantas diceritakan cuma memotret dan bersepeda. Bisa dibilang hobi, tapi tidak terlalu rutin dan masih kurang effort yang saya lakukan untuk menjalani hobi tersebut. Sering bolos lah.

Motret, di jaman media sosial masa kini tentu sudah bukan sesuatu yang spesial, kecuali buat fotografer profesional dan pehobi fotografi yang antusias. Sering kali saya merasa nggak pantas buat mengaku “hobi motret”, sementara saya memotret sesuatu jauh lebih jarang daripada pengguna media sosial pada umumnya. Hasil foto-fotonya pun biasa saja, padahal sudah pakai “kamera beneran”. Malah masih kalah dengan foto-foto di instagram yang pakai ponsel pintar. Ngga apa-apa sih, saya terus motret aja buat latihan.

Soal apa yang difoto, saya sedang senang memfoto orang. Random people. Nggak random amat sih, melainkan orang-orang yang menurut saya menarik untuk difoto. Paling sering, penjual di pinggir jalan. Juga orang-orang di keramaian. Beberapa kali saya datang ke pertunjukan panggung, selain yang manggung adalah band atau penyanyi yang saya sukai, saya juga senang memperhatikan dan memfoto penontonnya. Tentu saja, banyak yang membuat instastory saat menonton pertunjukan, itu juga menarik untuk difoto.

Seorang penonton merekam instastory ketika White Shoes and The Couples Company sedang manggung di acara Vidio Fair 2.0
Seorang penonton merekam instastory ketika White Shoes and The Couples Company sedang manggung di acara Vidio Fair 2.0

Sepertinya keberanian saya untuk memfoto orang-orang ini adalah improvement yang paling terasa. Dulu saya sangat sungkan untuk memfoto orang, bahkan menampakkan diri membawa kamera di tempat banyak orang pun malu. Sekarang sedikit-sedikit saya mulai berani memotret orang, kadang-kadang head-on. Kadang-kadang saya meminta izin orang untuk memfoto mereka. Sering kali ditolak atau diusir. Dibanding kemajuan kualitas foto yang dihasilkan, kemajuan saya lebih banyak pada keberanian untuk menghadapi orang-orang yang akan difoto dan menerima penolakan tanpa perasaan gusar.

Massa "aksi 1512" atau perayaan kemenangan Persija meneriakkan yel-yel penyemangat.
Massa “aksi 1512” atau perayaan kemenangan Persija meneriakkan yel-yel penyemangat.

Nah sekarang dengan banyaknya foto yang dihasilkan, muncul masalah baru, yaitu memilah-milah foto mana yang bagus dan yang bisa dibuang. Selain itu saya juga ingin mengunggahnya, beberapa ke instagram dan mungkin sebagian besar mestinya diunggah ke flickr (yang sudah belasan tahun saya punya hampir tidak ada isinya). Sekadar ingin pamer saja, beruntung jika ada yang bisa memberika kritik. Tapi untuk menuju ke sana butuh usaha yang besar karena mesti dipilah-pilih tadi. Nanti aja lah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.